Skip to main content

Tolak bala versi Bali

Mantra Tolak Bala

Banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan dari para leluhur yg dirahasiakan bahkan banyak yg sudah punah karena lontar-lontar tidak disalin dan hancur karena sdh tua.....marilah kita jaga dan pelajari yg masih tersisa, salah satunya adalah lontar-lontar yang membahas "AJIAN UTAMA KANDA PAT" dan yang lainnya.....

MEDITASI KANDA PAT ( mantra-mantra)

Semua kitab-kitab kanda pat sudah pasti berisi banyak sekali mantra-mantra. Mulai dari mantra mandi, makan, bepergian, bekerja, hingga kembali pulang ke rumah dan tidur semua ada mantranya. Dengan mengucapkan mantra tertentu di harapkan seseorang dapat melindungi dirinya dari segala mara bahaya dan berbagai ganngguan lainnya. Mantra juga berfungsi untuk membebaskan diri dari serangan berbagai penyakit, baik yg bersifat phisik maupun kejiwaan (mental). Mantra kalau di ucapkan dengan keyakinan dan penghayatan serta penjiwaan yang sangat tinggi akan membangkitkan suatu gaib, yang kita sebut dengan Kesaktian atau Kesidian.

Kesaktian ini yang akan bekerja lewat pikiran. Melalui pikiran, kesaktian itu di arahkan kepada yang di tuju. Yaitu untuk tujuan pengobatan atau pencegahan suatu penyakit, tolak bala, menolak guna-guna serta segala sesuatu yang sifatnya negative. Mantra yang diucapkan dengan penghayatan dan dengan kesadaran yang tinggi, bisa membuat “api” menjadi “air” artinya org yg dikuasai amarah bisa menjadi reda dan menjadi sadar. Penyakit kembali ke tempatnya. Semua menjadi anugrah. Semua senjata tidak akan mengena atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan racunpun akan kehilangan kekuatan bisanya, tanah dan pohon angker menjadi netral atau tawar.

Dan ini lah mantra-mantra itu :

1. Bhuta mangan mantra.

Ong sang bhuta astera, aja sira amangan mantraning ulun, lamun ingsun wus amantra, sumingahe kita denadoh 3x, lamun ingsun amantra, wehana aku sidi-mandhi, Ong Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya…..ucapkan mantra ini satu kali dengan menahan nafas.

2. Pangempet bhuta

Ih Kalika empet, kal mretyu empet, kala garuda empet, kala bagatra empet, kala anje-anje empet, banaspati empet, banaspati raja empet, mrajapati empet, angga pati empet, bhuta borong empet, bhuta singo empet, kala basukih empet, kala desti empet, kala wisesa empet, kala reregek empet, kala nyekpupu empet, kala tangan-tangan empet, Ikapet mengapet risariranta, ring sarira awak saterunku kabeh, metune ring sarirankune, kasidianku, poma, poma, poma.

Masing-masing mantra di atas mempunyai kegunaan yang hampir sama.

Bhuta mangan mantra: mempunyai sifat menjinakkan bhuta kala supaya tidak mengganggu pikiran seseorang baik secara lahir maupun bathin.

Pangempet bhuta : setelah kita jinakkan bhuta kala tersebut, lalu kita tutup pintu supaya setan, sihir dan sebangsanya tidak bisamenggangu meditasi kita. Dan juga manfaat ke 2 mantra tersebut diatas berguna pula untuk membantu meredakan amarah seseorang yang menderita sakit jiwa. Untuk menolak bala ( leak, desti, teluh terangjana) ucapkanlah mantra itu masing-masing 3x.
Semoga Manfaat..
Setelah baca,.. mohon klik iklan dibawah ini yah..
Terima kasih,, Semoga Tuhan memberkahi kita..


Comments

Popular posts from this blog

Makna Kembang Setaman

MAKNA BUNGA " kembang staman "  dalam Sesaji Jawa  Kembang setaman versi Jawa" terdiri dari beberapa jenis bunga Yakni : Mawar, Melati, kanthil & Kenanga. Mengenal Berbagai Simbol Penghormatan Dalam falsafah hidup Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup, tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan batin tak akan bisa diraih apabila kita menjadi seorang anak atau generasi penerus yang durhaka kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya. Ungkapan rasa berbakti, tidak hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan kepada leluhurnya. Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingku...

KAJIAN HARI Menurut Ilmu Jawa

PASARAN Pasaran berasal dari kata dasar “pasar”, mendapat akhiran –an . Pasaran adalah sirklus mingguan yang berjumlah 5 hari. Yaitu Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Disebut pasaran karena sistem ini lazim dipakai untuk membagi hari buka pasar (tempat jual beli) yang berada di 5 titik tempat. Pada jaman dahulu salah satu sistem pemerataan perekonomian rakyat diatur dengan pembagian tempat jual beli (pasar). Yang berjumlah 5 titik tempat mengikuti arah mata angin (Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah). Pasar Legi berada di Timur, Pasar Pahing berada di Selatan, Pasar Pon di Barat, Pasar Wage di Utara dan Pasar Kliwon berada di pusat / tengah kota. Pasar ini buka secara bergantian, mengikuti sirklus pasaran (pancawara) tersebut. Sedangkan dalam masyarakat Melayu Islam, tempat jual beli (pasar) disebut pekan. Dan hari pasar memakai sirklus mingguan yang berjumlah 7 hari (Senin, Selasa dst). Misalnya ada Pasar Minggu, Pasar Senen dan seterusnya. Oleh ...

Filosofi Jawa

Orang Jawa pada jaman dahulu selalu mempergunakan FILOSOFI/ UNEN-ENEN untuk menata kehidupan sehari-hari. Dan menerapkannya, maka dari itulah orang Jawa kuno terlihat lebih SANTUN daripada orang Jawa sekarang yang sudah terpengaruh oleh MODERNISASI, yang lebih mengutamakan EGO  daan kesenangan diri sendiri karena hanya mempelajari ilmu di bangku sekolah saja. Mungkin perlu adanya pembelajaran pada anak muda sekarang tentang MAKNA DAN ARTI HIDUP yang sejati dengan bantuan Filosofi Jawa Kuno. Sering terdengar perkataan yang terlontar dari orang-orang Jawa tua untuk anak2 muda sekarang WONG JOWO NANGING ORA JAWANI  yang artinya Orang Jawa tetapi tidak mengerti dan memahami makna dan tatanan kebaikan .  Di bawah ini sedikit dari Filosofi Jawa yang mungkin bisa mengingatkan dan membuka hati kita semua tentang keindahan FILOSOFI JAWA  yang masih cocok untuk diterapkan di sepanjang jaman. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanp...